mengapa keinginan untuk menulis itu lebih sulit dari berbicara?
mengapa keinginan untuk membaca itu lebih sulit dari menonton tv?
mengapa?
itu bermula dari kebiasaan saja.
seberapa besar waktu kita dialokasikan,seberapa besar perhatian, energi dan hasrat dicurahkan, pada akhirnya kompetensi adalah harga yang pantas dibayarkan untuk usaha/kerja keras tsb. (JM Zacharias, 2010)
Kutipan diatas merupakan percikan suara hati saya, delapan waktu berselang namun tetap relevan. Apalagi makin banyak produk dan hal-hal lain yang menarik minat kita yang kemudian meninggalkan prirotas minat membaca. Dengan artikel ini bertujuan mengajak kembali jadikan membaca buku [buku fisik] menjadi kegiatan produktif. Berikut alasan mengapa kegiatan membaca rutin merupakan tidak saja namun produktif namun memberi banyak manfaat berikut tips-tips kegiatana membaca yang produktif.
Alasan Kegiatan Membaca Itu Penting Bagi Kita
1. Menyehatkan dan Menjaga Otak tetap pada Top Perform-nya
Sebagaimana otot dilatih setiap saat, sehingga siap saat diperlukan untuk berlari dan melakukan kegiatan olah raga lainnya. Otak pun demikian. Perlu membiasakan otak untuk berlatih salah satunya lewat membaca. Latihan otak yang rutin salah satunya melalui membaca buku setiap hari. Bahkan artikel pada psychologytoday.com memyebutnya sebagai Reading can be like mental gymnastics for the brain yang tidak hanya membantu otak untuk tumbuh berkembang serta juga mencegah kita dari dampak demensia & alzheimer .
2. Beri Masukan Input (Informasi & Pengetahuan)
Kita sudah tahu bahwa membaca merupakan salah satu kegiatan belajar untuk menambah pengetahuan yang erat kaitannya dengan proses otak dalam proses kita dalam berpikir kognitif baik mulai menyimpan informasi/pengetahuan dalam memori, mendayagunakannya kembali saat dibutuhkan dalam berpikir saat kita berdiskusi/mengemukakan pendapat sampai pada pengambilan keputusan. Dengan membaca sejarah atau buku biografi bahkan buku novel pun dapat memberi sudut pandang baru yang turut memperluas horison kita dalam menghadapi berbagai hal bahkan untuk hal-hal baru yang belum pernah kita alami sekalipun, dan ini berkat dari membaca buku dari pengalaman serta pengatahuan praktis lainnya.
Profesor Keith Oatley menganologikan kegiatan membaca buku seperti berlatih simulator. Seorang calon pilot dan pilot pun terus mengasah kemampuan serta pengetahuan dengan simulasi lewat berlatih simulator.
Demikian halnya dengan kegiatan membaca yang disebutnya sebagai Life Simulator dimana kita pun membutuhkan pengetahuan dan melatih kemampuan menganalisa yang pada akhinya membantu pijakan kita proses dlm kontruksikan pandangan, dalam memecahkan masalah dan pengambilan keputusan dalam menghadapi tantangan kedepan kehidupan sehari-hari.
”Saya kira itu pengorbanan seorang kakak. Dia berhenti sekolah tapi dia tdk berhenti membeli dan membaca buku,” Wahyu Susilo. #MataNajwa
— Mata Najwa (@MataNajwa) March 29, 2017
Kutipan twit di atas kesaksian tentang sastrawan dan aktivis hak asasi manusia [yang masih hilang sejak tahun 1998] Widji Thukul yang rajin membeli dan membaca buku saat harus berkorban tidak melanjutkan sekolah sebagaimana yang diceritakan adiknya. Kisah lainnya dari komedian dan host berbagai talk-show Tukul Arwana sebagai yang diceritakan Dedi ‘Miing’ Gumelar yang tahun 90-an awal menjadi produser radio komedi Suara Kejayaan (Radio SK) yang melihat keseriusan Tukul Arwana yang menjadi penyiar radio SK tersebut mengisi waktu luangnya dengan menambah pengetahuan dengan membaca buku disela-sela kesibukannya.
Bahkan dengan membaca, bahkan kamus sekali pun secara rutin membantu musisi Eminem dalam untuk memperkaya perbendaharaan kata yang nantinya berguna saat dibutuhkan dalam menuangkan kata demi kata pada lirik lagunya. Bahkan kemampuan penciptaan lirik ini membuat karyanya menonjol di kancah pencipta lagu dunia dan istilah baru dari liriknya ada yang scara resmi masuk dalam kamus (Oxford English Dictionary).
3. Pengalaman dengan Sensor-Sensor Panca Indra Tingkatkan Efektifitas Belajar
Mungkin ada yang bergumam kalau sudah membaca media sosial, artikel-artikel online, bahkan bacaan elektronik sekalipun berati sudah cukup alias tidak perlu [tinggalkan] kebiasaan membaca buku secara fisik. Tahu kah Anda, kegiatan membaca buku fisik mulai dengan merasakan pengalaman membuka lembar demi lembar buku [belum lagi merasakan tekstur kasar lembut halaman buku] memberi pesan yang tidak saja pada sensor peraba kita namun juga kolektif dengan apa yang diterima sensor visual kita (mata) untuk kemudian dikirim ke otak yang menjadi pusat kontrol dan pemprosesannya.
Rangsangan-rangsangan motorik tersebut cukup memberi pengalaman yang memperkuat bangunan informasi dan pengetahuan yang disimpan pada memori untuk kemudian efektifitasnya mendukung saat dibutuhkan untuk proses selajutya seperti proses mengingat, analisis sampai pada pengambilan keputusan.
Efektifitasnya mirip dengan cara kerja rangsanagn motorik saat kita belajar dengan cara baik lewat menulisnya kembali, meringkas, membuat bagan-bagan pemodelan, bahkan saat proses menghafalnya dengan proses mengulang serta membaca dengan keras atau dengan cara menyanyikannya (sebagaimana ada akan ingat dengan pesan-pesan dengan menyanyikan jingle tertentu).
4. Buku merupakan Sahabat Setia sekaligus Guru
Menempatkan buku sebagai personifikasi sahabat dan guru ini tentu tidak berlebihan. Di saat tengah malam, Anda kesulitan tidur dan merasa sepi sendiri … Anda bisa menemuinya kapan pun dan bisa memintanya untuk bercerita sesuatu yang lucu, sesuatu yang [pengalaman yang mungkin terlihat bodoh] namun menghibur sekaligus memberi pandangan, pengalaman sekaligus pengetahuan baru. Dan ini baik untuk menstimulasikan mental sekaligus me-manage stress secara alami sehat.
Itu mengapa buku juga merupakan guru yang baik dan setia kapan saja Anda membutuhkan. Bahkan saat Anda ingin masuk dalam gaya hidup yang lain sama sama sekali berbeda sekali pun [tanpa harus mengubah gaya hidup/kehidupan sehari-hari Anda], Anda dapat menyelaminya dengan merengkuh sang sahabat (buku) yang sesuai minat dan imajinasi Anda.
Saya gunakan personafikasian buku ini, tidak lain untuk memberi gambaran bahwa kegiatan membaca buku ibarat seperti kita berkomunikasi atau bergaul dengan orang lain. Semakin intens, semakin rutin, hubungan dan proses saling mengisi pun tercipta. Itu mengapa kegiatan membaca buku menjadi suatu kegiatan rutin, ritual setiap harinya yang menyenangkan dan bermanfaat tentunya.
“Books are the quietest and most constant of friends; they are the most accessible and wisest of counselors, and the most patient of teachers.”
― Charles W. Eliot
Pernah kah Anda membaca buku seperti buku auto biografi dan merasakan seperti berhadapan langsung dengan sang tokoh sekaligus penulisnya [merasakan langsung apa yang dirasakan penulis pada jamannya] yang dengan gaya yang khas bagikan sesuatu yang membuat Anda belajar banyak darinya. Ini tentu saja melompat ruang [tempat] dan waktu … apalagi sang penulis sudah lama hidup berabad-abad silam seperti catatan tentang Nusantara oleh T. S. Raffles, A. R. Wallace dalam buku-buku ini.
Merinding … kagum lihat karya yg ditulis berabad-abad silam ttg Nusantara oleh T. S. Raffles, A. R. Wallace dll. pic.twitter.com/pbzIB7FlB3
— A Man Called A JMZ [JM Zacharias ???] (@jmzacharias) May 7, 2016
Setelah tahu beberapa alasan di atas [dan masih banyak lagi alasan lainnya] mengapa kegiatan membaca itu penting. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk memulai. Jangan banyak menunda. Just Do It! Tidak apa-apa mulai dari langkah-langkah kecil, namun fokus dan terus menerus sampai akhirnya perjalanan panjang (journey) tidak terasa telah mampu Anda jalankan dengan baik termasuk mengatasi tantangan-tantangannya. Bahkan sikap malas atau ragu yang sebelumnya Anda anggap biasa pun menjadi ‘benalu-benalu kecil‘ yangg terus memakan potensi dan sumber daya Anda. Namun itu tidak lagi, jika Anda memutuskan untuk memulai kebiasaan-kebiasaan baik setiap harinya.
Sebelum membahas tips-tipskegiatan #30MenitBacaBukuSetiapHari. Berikut hasil paparan penelitian yang dilakukan University of Michigan’s yearly Health and Retirement Study bahwa kegiatan 30 Menit membaca setiap hari merupakan waktu rata-rata yang cukup optimal memberi dampak untuk umur pembaca lebih panjang 2 tahun dari yang tidak berkegiatan rutin membaca tersebut. Perlu diperhatikan hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa dampak tersebut signifikan bila kegiatan membaca 30 menit setiap hari tersebut dilakuan minimal 12 tahun, sebuah proses yang tidak singkat.
Setelah mengetahui latarbelakang dan efektifitas kegiatan #30MenitBacaBukuSetiapHari berikut tips menjalankan setiap hari
Tips kegiatan membaca setiap hari (#30MenitBacaBukuSetiapHari)
a. Cari Tahu Tujuan Membaca
Cari tahu dahulu tujuan membaca Anda, apakah untuk mencari hiburan, cari inspirasi untuk berkarya, menggali lebih dalam problem sosial atau pengetahuan yang menjadi minat Anda dll. Dengan mengetahui tujuan, akan memudahkan dalam memilih kateogori buku yang diinginkan apakah buku text book, buku novel, buku seni dll.
b. Kenali Diri Anda
Meski kegiatan membaca terdengar seperti lazimnya kegiatan lain, namun jika dikaitkan dengan suatu proses panjang terkait memulai kebiasaan baru [berubah] ini tidak seperti membalikkan telapak tangan. Awalnya seperti mudah, namun tanpa komitmen, fokus dan kesungguhan [tekad yg kuat], layu di tengah perjalanan merupakan hal yang jamak bahkan terkadang diterima seperti kodrat yang tidak bisa diubah.
Karena itu kenali diri Anda, sekaligus mempertajam tekad, komitmen untuk terus fokus dan bersungguh-sungguh dalam proses kegiatan rutin membaca ini yang nantinya akan menjadi bagian hidup Anda.
Suatu proses yang terus ada selama Anda hidup dan mungkin bisa diterjemahkan dalam quote While I breath I keep reading (versi iseng2x dari kalimat bijak dalam bahasaa latin dum spiro spero yang kalau dalam bahasa Inggris “While I breathe, I hope”).
Selanjutnya dengan mengenal diri dan karakter Anda, ini akan lebih membantu dalam memformulakan kapan waktu, tempat serta target yang memungkinkan bagi Anda termasuk Anda merupakan orang yang sangat sibuk misal sekali membaca 10-20 halaman (dalam 30 menit) yang lama kelamaan kemampuan dan keasyikan membaca pun meningkat . Itu mengapa mengenali diri ini sangat penting. Karena cara berproses setiap orang pasti berbeda. Masing-masing punya tantangan dan keunikannnya sendiri.
c. Buat Kegiatan Membaca Menyenangkan
Kebiasaan #30MenitBacaBukuSetiapHari agar menjadi kebiasaan yang dirindukan di hari esoknya, ya caranya dengan membuat kegiatan membaca ini menyenangkan [menggabungkannya dengan mendengar alunan musik, menikmati bersama semilir angin dan pemandangan di luar/outdoor seperti foto artikel di atas serta ditemani kudapan dan kopi/teh seperti pada foto bawah], tidak membosankan dan dinamis diisi dengan hal-hal baru dan lebih menantang. Bahkan untuk sambil menunggu seperti menunggu pesawat, saya siapkan buku kecil [yg ringan dari sisi berat dan bobot isinya lebih sisi hiburan]. Membaca buku tidak harus satu kali sampai hafal titik koma dsb. Namun sesuai kebutuhan. Anda sendiri yang tahu untuk membaca buku ini Anda harus membaca berkali-kali sampai mendapatkan sesuatu yg sesuai tujuan Anda, atau membaca dengan memberi tanda [seperti dengan sticky note/post-it pada halaman tertentu seperti pada foto bawah].
Pada akhirnya apa yang dibahas di atas (alasan pentingnya membaca beserta tips-tips-nya), bergantung pada Kita sendiri. Sama seperti Anda, dulu saya tidak punya minat untuk membaca buku [lain ceritanya kalau terpaksa karena ada ujian atau tes sekolah/kuliah]. Waktu itu saya tahu bahwa kebiasaan membaca itu penting namun tidak membuat saya mengubah pola hidup untuk rajin membaca.
Sampai saya tahu titik balik saya, untuk mulai rajin membaca: pada saat saya tahu akan cita-cita saya agar mampu menulis artikel dengan baik. Lalu, hubungannya? Ya karena jika ingin menulis artikel yang baik harus banyak dan rajin membaca referensi-referensi lainnya. Dan buku merupakan referensi penting. Momen itu pula lah yang berhasil membuat saya punya kebiasaan membaca.
Itu mengapa saya tidak henti-hentinya mengajak Anda semua untuk punya kebiasaan membaca. Saya pun suka membuat souvenir pembatas buku yang secara simbolis memberi pesan pada penerimanya agar kemudian diletakkan pada buku mana yang ingin dibacanya. Bukan kah itu keren, jika makin banyak yang punya kebiasaan membaca buku. Sehingga kutipan [quote] saya delapan tahun silam ini menjadi pertanyaan yang tinggal kenangan [tidak perlu dipertanyakan lagi]. Semoga!
mengapa keinginan untuk membaca itu lebih sulit dari menonton tv?
mengapa?
itu bermula dari kebiasaan saja.
seberapa besar waktu kita dialokasikan,seberapa besar perhatian, energi dan hasrat dicurahkan, pada akhirnya kompetensi adalah harga yang pantas dibayarkan untuk usaha/kerja keras tsb. (JM Zacharias, 2010)
Kampanye #30MenitBacaBukuSetiapHari
Penulis: JM Zacharias | Business Strategist | Founder HidupProduktif.Com |
*image credit: Min An
*Tentang HidupProduktif.Com
HidupProduktif.Com hadir mendukung efektifitas kegiatan produktif pribadi serta peningkatan produktitas operasional institusi/korporasi dan bisnis. Didukung dengan artikel-artikel terkini merekam sisi produktifitas sehari-hari, permasalahan, mengemasnya dalam format yang mudah dicerna dengan solusi jitu serta twit-twit produktif melalui Twitter @HidupProduktif.
Menjadi kreatif, siapa takut ! Tapi bagaimana melakukan prosesnya untuk menjadi kreatif ? Ada pertanyaan, keraguan berkaitan dengan menjadikan diri kita kreatif. Mengapa harus menjadi kreatif? Atau banyak alasan untuk menguatkan bahwa dirinya bukan tipe kreatif. Berikut ini ada 9 hal yang penting diperhatikan untuk menjadi kreatif :
1. Mengapa harus menjadi kreatif? Apa pentingnya?
Mulai dulu dari apa pentingnya menjadi kreatif, singkatnya mengapa harus menjadi kreatif. Dalam pengembangan produk sampai implementasi program marketing di lapangan, proses kreatif terkadang dikesampingkan dianggap sebagai kegiatan yang memakan waktu dan biaya, dibandingkan dengan proses bisnis lainnya yang tinggal mengikuti market trend setter yang ada (me too approach). Padahal kreatifitas dapat diposisikan sebagai faktor utama pengungkit terobosan suatu produk (baca inovasi) dengan pendekatan yang unik (out of the box).
2. Sisi kritikal dalam proses kreatif.
Albert Einstein pernah berkata “If I had an hour to solve a problem and my life depended on the solution, I would spend the first fifty-five minutes determining the proper question to ask, for once I know the proper question, I could solve the problem in less than five minutes.” Dengan kumpulan pertanyaan (permasalahan) yang ada, coba jawab dengan solusi menyeluruh, menyentuh inti permasalahan termasuk dengan solusi pendekatan “nyeleneh” dengan [think out of the box] approach solution .
3. Sumber daya berkreatif.
Carmine Gallo dalam bukunya The Innovation Secrets of Steve Jobs mengatakan semakin beragam pengalaman dan pengetahuan, menghasilkan hubungan-hubungan (korelasi) di otak. Input-input segar dari korelasi tersebut menghasilkan asosiasi yang mengstimulasikan ide-ide kreatif. Tanamkan gagasan asosiasi dari pengalaman berbeda untuk mengaktifkan proses kreatif. Terbukalah terhadap pengalaman berbeda serta perlebar horison pandangan, informasi yang masuk serta pengetahuan. Banyak sarana untuk usaha ini melalui film, novel, musik dengan genre berbeda, melakukan petualangan perjalanan dan kegiatan lainnya yang menambah perbendaharaan asosiasi yang aktif dalam otak.
4. Metoda berkreatif.
Steve Jobs, sosok sentra di balik keunggulan produk Apple mengasosiakan ajaran Zen yang berkaitan dengan ketenangan (damai) terhadap problem suara berisik fan pada notebook, mengalirlah pada pertanyaan-pertayaan yang dapat diimaginasikan untuk mengungkit ide kreatif sbb:
-Mengapa? Mengapa fan pada notebook mengganggu ketenangan?
-Mengapa Tidak? Mengapa tidak jika fungsi fan dengan suara berisik digantikan alat lain (solusi lain) yang berhubungan fungsi fan sebagai penghantar panas (buangan dari energi listrik yang digunakan).
-Bagaimana Jika? Bagaimana jika mengganti fungsi fan dengan menciptakan sistem power Mac yang tidak menimbulkan panas tertentu sehingga menggantikan piranti fan.
Lalu munculah inovasi notebook Mac (Apple) tanpa fan ini, yang berarti tanpa suara berisik putaran fan, menjadi value produk Apple.
5. Meminjam dan meramu gagasan.
Steve Jobs berujar “Creativity is connecting things.” Connecting things, tindakan menghubungkan hal-hal dengan pendekatan asosiasi ini merupakan kata kunci proses kreatif yang tidak saja menciptakan ide baru namun juga mengelaborasi ide-ide kecil yang berserakan menjadi suatu ide besar (grand idea) yang dashyat. David Kord Murrays menyebutnya “meminjam kebrilianan” untuk saling meminjam ide, menghubungkan serta mengkombinasikan dan menyempurnakan ide-ide tersebut, sebagaimana yang dituangkan dalam buku Borrowing Brilliance. Contoh relevan dengan hal “meminjam kebrilianan” seperti MacSafe konektor listirk Mac yang diperkenalkan saat Mac World 2006. Idenya diadopsi dari konektor listrik penanak nasi yang digunakan di Jepang. Konektor penanak nasi tersebut menempal aman menggunakan magnet, sehingga jika kabelnya tersangkut kaki (tertarik) maka kabel konektor tersebut akan lepas hubungan magnetnya dan tidak menyebabkan penanak nasi ikut tertarik atau terbalik.
6. Jaringan pergaulan dan wawasan.
Salah satu cara untuk semakin kreatif dengan jalan memperluas lingkaran pergaulan sosial, bergaul dengan orang dengan latar belakang yang berbeda, sebagaimana pendapat Jonah Lehrer pengarang buku How Creativity Works. Lehrer menambahkan suatu studi dari 766 lulusan Stanford Business School yang membangun perusahaannya sendiri. Lulusan yang mempunyai lingkaran pergaulan dengan teman-teman yang beragam latar belakangnya, tiga kali lebih inovatif dibandingkan yang tidak memiliki teman yang beragam latar belakangnya. Kemampuan inovasi tersebut ditunjukan dengan sejumlah hak cipta dan merek yang mereka miliki.
7. Kerja otak dalam berkreatif.
Proses kreatif berhubungan erat dengan kerja otak tepatnya otak kanan. Neuro science merupakan disiplin ilmu mempelajari kerja dan fungsi otak yang berhubungan dengan aktifitas manusia. Untuk memahami bagaimana otak akan mendukung proses kreatif optimal, dimulai dari:
Bahan bakar otak (oksigen) agar tersedia cukup untuk kinerja otak. Mekanisme mengikat oksigen oleh hemoglobin dalam darah, didistribusikan melalui jantung ke otak, hendaknya didukung dengan olahraga (memperbaiki kemampuan VO2Max; kemampuan untuk menghirup O2 maksimal), makanan (termasuk yang mengandung asam lemak omega-3 seperti: ikan salmon) dan ruang yang cukup untuk sirkulasi udara.
Kesegaran otak yang berhubungan dengan waktu kerja dan waktu istirahat otak. Waktu istirahat otak sekitar 7-8 jam per hari dalam kondisi tidur deep dreamless sleep pada gelombang otak delta (delta state).
Pengalaman baru yang menyegarkan (refresh) kerja otak, terutama saat otak dalam kondisi puncak dalam waktu lama atau saat kondisi pikiran jenuh. Luangkan waktu untuk berjalan kecil meninggalkan meja kerja setiap 1,5 -2 jam sekali baik berjalan menuju kamar kecil, pantry untuk membuat kopi sambil bercengkrama dengan kolega , atau sejenak keluar gedung untuk menghirup udara segar merupakan kegiatan positif untuk membangkitkan kesegaran yang dibutuhkan dalam suatu proses kreatif. Ron Friedman dalam artikelnya menyebut secara neurological, momen untuk “bebas” sementara dari meja kerja adalah kesempatan hemisphere dari otak kita untuk hidup.
8. Pola pikir.
Ada faktor yang tidak kalah penting, yakni pola pikir (mind set). Kesimpulan penelitian yang dilakukan peniliti Univ. Harvard : pola pikir seseorang berkontribusi besar untuk menyakinkan seseorang apakah merasa dirinya kreatif atau tidak. Berpikir & bersikap positif (dalam hal ini: kreatif) dapat diaktulisasikan dalam berbagai cara termasuk melalui kegiatan afimasi (pengulangan keyakinan/tekad secara terus menerus), visualisasi (mengimaginasikan keyakinan/tekad) serta didukung perasaan/emosi (antusiasme), diharapkan pada pikiran bawah sadar tertanam keyakinan/tekad bahwa Anda kreatif serta mendorong melakukan kegiatan kreatif setiap saat. Untuk menjadi semakin kreatif dibutuhkan semakin banyak intensitas dan peningkatan kualitas kegiatan kreatif yang saling berkontribusi dengan pola pikir (mind set ) positif sebagai daya dorongnya.
9. Hambatan diri untuk berkreatif.
David Kelly (professor design Universitras Stanford) saat menjadi pembicara tamu TEDTalks memaparkan pentingnya proses untuk merubah suatu paradigma, contoh kasus eksekutif merasa bukan bertipe kreatif, David berujar “if they stick the process, they stick with it, the end of doing amizing thing and they surprissed them self just how innovative they and their team really are”. Semakin intens melewati proces untuk mengalahkan ketakutan (fear & self judgment: seperti phobia atau perasaan lain seperti tidak kreatif dll), semakin tinggi kepercayaan diri, semakin meningkat Self Efficacy. Metoda berkaitan rangkaian proses untuk mengalahkan phobia, meningkatkan Self Efficacy ini terbukti efektif dan telah teruji sejak dicetuskan oleh Albert Bandura (profesor psikologi Universitas Stanford).
Nah, bila hal penting berkreatif diperhatikan untuk menduking proses berkreatif termasuk segala sesuatunya lengkap (termasuk sumber daya) mendukung terciptanya proses kreatif, kreatifitas merupakan hasil yang pantas didapat. Kreatifitas bukan hanya domain perancang, pengembang produk atau marketer, namun kita semua lapisan masyarakat. Kreatifitas juga lah merupakan elemen penting manusia untuk hidup dan memberi kontribusi positif pada hidup.
Bukan kah untuk mengatasi permasalahan hidup kita harus kreatif juga?
Mau jadi kreatif ? Siapa Takut !
Penulis: JM Zacharias | Business Strategist | Founder HidupProduktif.Com |
Artikel ini pertama kali dimuat di JMZacharias.Com Business Strategy Hub
*image credit: digitalart-freedigitalphotos.net
*Tentang HidupProduktif.Com
HidupProduktif.Com hadir mendukung efektifitas kegiatan produktif pribadi serta peningkatan produktitas operasional institusi/korporasi dan bisnis. Didukung dengan artikel-artikel terkini merekam sisi produktifitas sehari-hari, permasalahan, mengemasnya dalam format yang mudah dicerna dengan solusi jitu serta twit-twit produktif melalui Twitter @HidupProduktif.